Hubungan Auditor Internal dan Auditor Eksternal

Ada beberapa hal yang terkait dengan audit eksternal dan audit internal. Di dalam hal ini ada beberapa poin yang membedakan antara audit eksternal dan audit internal. Perbedaan itu adalah dari sisi : 1) Output atau keluaran dimana output utama dari audit eksternal adalah opini sedangkan output utama dari audit internal adalah rekomendasi. Kemudian dari sisi 2) Independensi, dimana audit eksternal harus independen terhadap manajemen sedangkan audit internal tidak independen terhadap manajemen namun harus independen terhadap aktivitas yang diaudit. Poin selanjutnya adalah 3) Klien dari audit eksternal yang merupakan pemegang saham, komisaris dan pihak terkait diluar perusahaan sedangkan klien dari audit internal adalah manajemen sendiri. Dan yang terakhir adalah 4) pelaporan dimana audit eksternal melaporkan hasil audit pada stakeholder perusahaan sedangkan audit internal melaporkan hasil audit pada direksi.

Pembahasan selanjutnya yang dibahas adalah tentang manfaat adanya audit internal bagi auditor eksternal yang berupa independensi atau obyektivitas yang lebih baik dibandingkan dengan manajemen langsung, pemahaman mendalam yang dimiliki oleh auditor internal atas kegiatan operasional perusahaan, dan juga kesamaan profesi yang dimiliki auditor eksternal dengan auditor internal sehingga akan memudahkan komunikasi diantara keduanya.

Walaupun terdapat banyak kegunaan auditor internal bagi auditor eksternal, di dalam prakteknya belum tentu ada kerja sama yang erat diantara keduanya. ada beberapa hal yang menentukan terjalinnya kerja sama yang padu antara auditor eksternal dan auditor internal yaitu:
• Tingkat pemahaman auditor eksternal atas status auditor internal
• Adanya peraturan dan standar yang mendasarinya. Di dalam standar audit di Indonesia kerja sama antara auditor eksternal dan auditor internal dimungkinkan dengan beberapa persyaratan berupa; kompetensi auditor internal, pemberian tujuan audit kepada auditor internal oleh auditor eksternal di awal proses audit, dan pelaporan langsung kepada auditor eksternal.
• Tingkat perbedaan cakupan kegiatan audit internal dengan cakupan audit eksternal.
• Obyektivitas auditor internal di mata auditor eksternal.
Yang juga ditekankan oleh pembicara di bagian ini adalah pengujian ulang hasil audit internal oleh auditor eksternal serta upaya melibatkan audit internal di dalam review atas audit eksternal sebagai upaya menjembatani hubungan antara kedua auditor.

Fungsi dari komite audit di dalam hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh pembicara di Bank BNI adalah sebagai penghubung dan pendorong kerja sama yang harmonis antara auditor eksternal dengan auditor internal. Namun demikian keputusan untuk melibatkan auditor internal atau tidak sepenuhnya adalah kebijaksanaan dari auditor eksternal karena resiko yang dihadapi oleh auditor eksternal tersebut.

Bambang Soembodo mempertanyakan tentang standar profesionalisme dan kode etik yang harus dimiliki oleh seorang auditor internal sehingga efektif di dalam menjalankan tugasnya. Dalam tanggapannya pembicara menyatakan bahwa secara profesi Institute of Internal Audit (IIA) telah merumuskan standar profesionalisme dan kode etik seorang internal auditor secara umum namun sifatnya hanya rekomendatif. Di dalam hal ini Forum Leader Subarto Zaini menambahkan bahwa kode etik profesi memang tidak bersifat mengikat secara formal akan tetapi apabila seseorang adalah profesional sejati maka kode etik itu mengikatnya secara moral.

“Proses Audit Eksternal dan Standar Akuntansi Keuangan”
Dani Soedarsono – Anggota Komite Audit PT. Semen Gresik Tbk.

Bahasan tentang proses audit eksternal ini melalui paparan yang santai dan sederhana dengan banyak mengemukakan tentang pengalaman pribadi pembicara sebagai auditor eksternal baik dalam pemerintahan (BPKP) maupun di dalam dunia bisnis (KAP).

Proses audit eksternal perusahaan yang dimulai dari penunjukkan, negosiasi antara auditor eksternal dengan perusahaan, penentuan kontrak kerja, pelaksanaan, hingga pelaporan yang semuanya sudah terdapat di dalam standar akuntansi keuangan di Indonesia. Dalam hal ini komite audit sangat berkepentingan untuk turut serta di dalam tahapan – tahapan audit eksternal tersebut tentunya dalam kapasitas sebagai pemberi informasi audit yang relevan bagi dewan komisaris.

Resiko yang harus dihadapi oleh perusahaan apabila terjadi kesalahan dalam proses audit eksternal misalnya di dalam kasus Telkom yang tersandung peraturan pasar modal AS tentang kualifikasi auditor eksternal yang digunakan. Beberapa kasus besar di luar negeri juga bisa dijadikan pelajaran bagi perusahaan untuk lebih berhati – hati di dalam melakukan kegiatan audit eksternal.

Selain itu masih banyak terjadi di BUMN dimana peran komite audit belum dijalankan sebagaimana mestinya. Hal ini terutama terjadi pada BUMN yang belum go public.

Pentingnya dan Manfaat Koordinasi

Berikut ini adalah beberapa penugasan atestasi yang diringkas oleh Pest Maverick di mana organisasi audit internal dapat menyediakan bantuan:

  • Peramalan dan proyeksi keuangan.
  • Peranti lunak sistem informasi dan kinerja peranti keras.
  • Kontrol internal pada organisasi jasa dan fiduslari.
  • Rencana organisasi dan kepailitan. Data kasus anti monopoli.
  • Biaya-biaya kontrak.
  • Kepatuhan terhadap persyaratan kontrak.
  • Kepatuhan terhadap peraturan pemerintah.
  • Kontinjensi pembayaran sewa guna usaha.
  • Audit manajemen.
  • Statistik pengunaan, pendaftaran, dan kehadiran.
  • Kontribusi dan pengeluaran politis.
  • Penggantian biaya (reimbursement cost).
  • Indikator-indikator produktivitas.

Penerbitan SAS No.65─Sebuah Kontrak Baru

Untuk mengakomodasikan pernyataan SAS No.65, auditor eksternal haruslah:

  • Menentukan relevansi fungsi audit internal.
  • Mengevalausi tujuan dan kompetensi fungsi audit internal.
  • Mempertimbangkan akibat dari pekerjaan auditor internal terhadap audit keuangan yang dilaksanakan oleh auditor eksternal, termasuk prosedur audit yang diperlukan.
  • Mengevaluasi dan menguji efektivitas pekerjaan yang dilaksanakan oleh auditor internal.

SAS 65 memberikan instruksi dalam tujuh bidang yang sama dengan yang ada dalam SAS No.9. Bidang-bidang tersebut adalah:

  1. Peranan auditor dan auditor internal.
  2. Fungsi audit internal.
  3. Kompetensi dan tujuan auditor internal.
  4. Luas dampak pekerjaan audit internal.
  5. Koordinasi auditor/auditor internal.
  6. Evaluasi auditor terhadap pekerjaan audit internal.
  7. Bantuan langsung oleh auditor internal.

Evaluasi Audit Eksternal─Suatu Substitusi untuk Penelaahan Auditor Eksternal

Standar audit IIA No.1311 dan 1312 memberikan penelaahan quality assurance dari aktivitas audit eksternal yang dapat berupa:

  • Penilaian Internal.
  • Penilaian Eksternal.

Persiapan Penelaahan Auditor Eksternal

Pemahaman Fungsi Audit Internal

Persyaratan SAS No.65

  • Status organisasi dalam entitas.
  • Penerapan standar professional.
  • Rencana audit.
  • Akses pada catatan, pembatasan lingkup.

Penilaian Kompetensi dan Objektivitas

Persyaratan SAS No.65

  • Tingkat pendidikan dan pengalman profesi.
  • Sertifikasi profesi dan pendidikan yang berkelanjutan.
  • Kebijakan, program, dan prosedur audit.
  • Praktik yang berhubungan dengan penunjukan auditor internal.
  • Pengawasan dan penelaahan aktivitas audit internal.
  • Kualitas dokumentasi kertas kerja, laporan, dan dokumentasi.
  • Evaluasi kinerja auditorinternal menurut persyaratan SAS No.65.

Evolusi Posisi Ikatan Auditor Internal

Tahun 1987, IIA menerbitkan Statement on Internal Auditing StandardsSIAS No.5. Pernyataan tersebut menginterpretasikan standar sebelumnya yaitu Standar 550, External Auditor, yang menyatakan:

Direktur audit internal (direktur audit) harus mengoordinasikan upaya-upaya audit internal dan eksternal (di dalam kurung ditambahkan)

  1. Pekerjaan audit internal dan eksternal harus dikoordinasikan untuk memastikan cakupan audit yang memadai dan untuk meminimalkan duplikasi upaya audit.
  2. Koordinasi upaya-upaya audit meliputi:
  3. Pertemuan periodic untuk membahas masalah-masalah kepentingan bersama.
  4. Akses pada program audit dan kertas kerja satu sama lain.
  5. Pertukaran laporan audit dan surat manajemen.
  6. Pemahaman umum tentang teknik, metode, dan istilah-istilah audit.

komite audit IIA pada tahun 1987 mengakui bahwaadanya kebutuhan untuk memperluas pernyataan-pernyataan di atas karena banyak peryataan yang dibuat darinya karena adanya kebngungan antara SIAS no.5 dengan SIAS no.9 AICPA. Berikut ini adalah ringkasa substansi SIAS no.5.

  1. sejauh diperbolehkan oleh tanggung jawab profesi dan orgaisasi, auditor internal harus melaksanakan pemeriksaan dengan cara yang memungkinkan bagi kordinasi dan efisiensi audit yang maksimum.
  2. direktur audit harus membuat evaluasi secara berkala tentang kordinasi anatara auditor internal dengan auditor independent dari luar.
  3. pertemuan dalam jumlah yang memadai harus dijadwalkan untuk membahas aktivitas audit yang direncanakan baik olehg auditor internal maupun auditor independent dari luar untuk memastikan adanya kordinasi pekerjaan yang tepat; bahwa duplikasi upaya audit diusahakan sesedikit mungkin; bahwa aktivitas audit adalah efisien dan tepat waktu; serta bahwa lingkup kerja audit yang terencana adalah tepat.
  4. auditor internal memerlukan akses yang cukup pada program, kertas kerja, laporan audit, dan surat manejemen dari auditor independent luar dan sebaliknya harus menyediakan bagi auditor independent dari luar akses yang cukup pada program audit internal, kertas kerja, dan laporan audit
  5. direktur aydit harus memastikan bahwa teknik, metode, dan istilah-istilah dari auditor independent luar cukup dipahami oleh auditor internal dan sebaliknya, ia harus menyediakan informasi yang cukup untuk membuat auditor independent memahami teknik, metode, dan istilah-istilah dari auditor internal.

Perolehan jasa audit eksternal

IIa meyakini bahwa adalah yang tepat untuk lebih memperluas standar 2050 yang berkenan denagn kordinasi antara operasiaudit internal dengan eksternal agar dapat memastikan cakupan yang tepat dan meminimalkan duplikasi upaya audit. Maka, IIA menerbitkan practice advisory 2050-2, nyaitu “Acquisition of External Audit Services” (perolehan jasa audit eksternal). Tujuannya adalah agar auditor internal memiliki suatu “peran dalam pemilihan atau pembatasan auditor eksternal dan dalam pendefinisian lingkup pekerjaan.”

Practice Advisory tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut:

  • permintaan untuk proposalperiodik secara berkala untuk jasa auditor eksternal tanpa mempertimbangkan ada atau tidaknya kepuasan terhadap kinerja auditor eksternal saat ini.
  • Pengembangan kebijakan yang tepat untuk mengurangi atau membaasi jasa audit eksternal seperti:

–  Sifat dan jenis jasa.

–  Persetujuan akan kebijakan.

–  Masa kontrak dan aspek-aspek penyimpanan.

–  Criteria evaluasi.

–  Aspek-aspek biaya jasa.

–  Aspek-aspek peraturan yangunik.

  • Jenis jasa selain audit keuangaan yang dapat ditawarkan adalah seperti:

–  Jasa perpajakan

–  Konsultasi

–  Jasa outsourcing dan cosourcing audit internal.

–  Jasa-jasa khusus

± Valuasi.

± Penilaian.

± Aktuaria.

–  Bantuan keuangan temporer.

–  Jasa hukum

  • Dokumentasi yang memadai untuk permohonan dan penyimpanan.
  • Pengembangan rencana pemilihan seperti:

–  Pemilihan peserta komite.

–  Bahan-bahan.

–  Tanggal-tanggal target.

–  Kandidat-kandidat.

–  Jasa yang akan diminta.

–  Metode penyerahan informasi kepada para peserta.

  • Penggunaan permintaan dua tahap untuk tujuan penyaringan dan isi dari metodologi untuk tiap tahap (kinereja dan keuangan).
  • Pengembangan metode analitis.
  • Dokumentasi perjanjian jasa.
  • Prosedur penggantian apabila penyedia jasa baru ditugaskan.
  • Metode pengawasan yang berkelanjutan terhadap penyedia jasa audit termasuk independensi dan kepatuhan mereka terhadap persyaratan kontrak.

Persyaratan Independensi Auditor Eksternal untuk Menyediakan Jasa Audit Internal

IIA telah menerbitkan Practice Advisory 2030-2, “SEC, External Auditor Independence Requirements”, untuk menyediakan jasa audit internal. Amandemen SEC berhubungan dengan:

  • Ihnvestasi oleh auditor atau anggota keluarga mereka dalam klien audit.
  • Hubungan ketenagakerjaan antara auditor dan anggota keluarganya dengan klien audit.
  • Lingkup jasa yang disediakan oleh perusahaan audit kepada klien audit mereka.

Peraturan SEC menyatakan bahwa auditor tidak independent jika auditor eksternal, kapan pun selama periode audit, menyediakan kepada klien audit, tergantung pada “pelepasan dan pembatasan criteria” yang dijelaskan dalam peraturan:

  • Tata buku atau jasa akuntansi lain yang berhubungan dengan laporan keuangan klien.
  • Rancangan dan implementasi sistem informasi keuangan.
  • Jasa penilaian atau valuasi atau opini tentang kewajaran.
  • Jasa akturia.
  • Jasa audit internal.
  • Fungsi manajemen.
  • Sumber daya manusia.
  • Jasa pialang perdagangan.
  • Jasa hukum.

Konsep “Audit sebagai Satu Kesatuan” (Unified Audit)

Berikut ini adalah beberapa keputusan dan tindakan kunci yang harus diambil pada saat rapat untuk membuat perencanaan:

  • Menetapkan batasan aktivitas audit eksternal dalam audit internal yang direncanakan sejak audit internal sebelumnya.
  • Membahas kondisi control internal, catatan akuntansi, prosedur, dan personel.
  • Mengidentifikasikan bidang/lokasi yang direncanakan akan audit oleh auditor eksternal.
  • Membandingkan dengan bidang/lokasi yang akan diaudit oleh auditor eksternal.
  • Mengidentifikasi bidang/lokasi yang hanya akan diaudit oleh auditor eksternal.
  • Menyetujui bidang audit eksternal di mana auditor internal dapat mengasumsikan pertanggungjawaban untuk mengaudit.
  • Memutuskan bidang-bidang audit internal yang membutuhkan bantuan auditor eksternal, termasuk perkiraan jumlah auditor eksternal dan jumlah hari kerja yang dibutuhkan.
  • Memutuskan bidang-bidang audit eksternal yang membutuhkan bantuan auditor internal, termasuk perkiraan jumlah auditor internal dan jumlah hari kerja yang dibutuhkan.
  • Menyetujui tanggal dan waktu untuk semua rencana audit gabungan.
  • Menyetujui format kertas kerja untuk pekerjaan audit gabungan.

0 Comments

Lewat ke baris perkakas